Tapi, Saya Cina Yang Tidak Kaya!

Coba lihat daftar orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes tahun 2017.

  1. R. Budi dan Michael Hartono ($ 32,3miliar atau Rp 436 triliun)
  2. Eka Tjipta Widjaja ($ 9,1 miliar atau Rp 123 triliun)
  3. Susilo Wonowidjojo ($ 8,8 miliar atau Rp 119 triliun)
  4. Anthoni Salim ($ 6,9 miliar atau Rp 93 triliun)
  5. Sri Prakash Lohia ($ 6,4 miliar atau Rp 123 triliun)
  6. Boenjamin Setiawan ($ 3,65 miliar atau Rp 49,5 triliun)
  7. Chairul Tanjung ($ 3,6 miliar atau Rp 48,8 triliun)
  8. Tahir ($ 3,5 miliar atau Rp 47 triliun)
  9. Mochtar Riady ($ 3 miliar atau Rp 40 triliun)
  10. Jogi Hendra Atmadja ($ 2,7 miliar atau Rp 36,6 triliun)

(1 USD= 13.566 IDR)

Dan yang ada dalam pikiran kita, “ah ya paling si Cina itu lagi yang terkaya,” atau “si Cina rokok digeser Cina kelapa sawit, enggak?” Wajar sih… Bahkan ketika saya mengonversikan angka miliaran dollar jadi triliunan rupiah, saya membayangkan apakah benar ada uang sebanyak itu di dunia. Apakah pernah terpikir untuk berhenti dan membagi-bagikan saja uang itu. Kapan saya berhenti hidup paycheck to paycheck?

Jika sentimen Anti-Cina yang marak terjadi belakangan ini saya interpretasi secara sempit, maka etnis Cina yang tidak disukai adalah mereka yang memegang peranan besar dalam ekonomi Indonesia.

Saya tidak akan membahas sejarah panjang strategi kolonialisme memecah belah bangsa menggunakan etnis, dan saya juga tidak ingin mengkambing hitamkan mereka. Kita sudah terlalu sering bernostalgia tentang kesalahan kompeni, hingga lupa pada kekhilafan sendiri.

Banyak orang kaya beretnis Cina tapi tidak banyak etnis Cina yang kaya. Pembatasan partisipasi politik dan birokrasi bagi WNI etnis Cina pada era Orde Baru tentu punya andil dalam ketimpangan jumlah pengusaha dan wirausahawan, yang kini berkembang jadi dinasti bisnis keluarga. Dan di usia Indonesia merdeka yang belum seberapa dikurangi masa pemerintahan Soeharto, usia dinasti-dinasti ini baru akan mulai teruji. Ini bukan berarti, selesai Orde Baru lalu daftar orang kaya Forbes tidak lagi didominasi etnis Cina. Yang ada malah semakin glamornya ketika mengintip kehidupan etnis Cina di Indonesia.

Realitanya, tidak semua Cina kaya, atau sekaya itu. Ada banyak lapisan jenjang ketimpangan ekonomi juga yang lebih dari sekedar masuk daftar orang terkaya atau tidak. Ada juga yang tidak mampu beli rumah berpagar marmer, ada juga yang tidak bisa tinggal di apartemen di pusat kota, ada juga yang tidak berdaya untuk liburan ke luar negeri setahun sekali, ada juga yang tidak bisa mendapat pendidikan layak, ada juga yang hari ini tidak mampu mengisi perut.

Lalu mengapa Cina terlihat kaya?

Data BPS 2010 bisa sedikit menjawab tentang ilusi ini.

Dari 2,8 juta etnis Cina yang ada di Indonesia, 93,3 persen tinggal di perkotaan. Hampir seluruh etnis Cina tumplek blek di kota besar, dengan konsentrasi tertinggi ada di provinsi DKI Jakarta, Kalimatan Barat, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Sementara di Indonesia, angka kemiskinan desa hampir dua kali lipat angka kemiskinan di kota. Kesimpulan ini memang tidak ilmiah tapi bisa dikira-kira jika seorang Cina miskin ada di satu daerah, ia akan jadi Cina yang eksotis karena kemiskinannya.

Tak masalah jika Anda pusing melihat angka yang saya tuliskan karena angka ini memang membutakan. Tapi yang perlu dimengerti adalah konsentrasi etnis Cina ada di tempat yang banyak orang kayanya. Dan kalau ikan kolam air tawar mau bertahan di laut, ada baiknya si ikan belajar berenang di air asin.

Menilik pada kondisi imigran di dunia global saat ini, jika sekeluarga bermigrasi dari daerah asalnya, apapun alasannya, akan cenderung mencari tempat yang dianggap paling bisa memenuhi kebutuhan mereka dan menerima kehadirannya. Kecuali jika si imigran punya kenalan keluarga yang sudah menetap lama di desa atau di daerah terpencil. Jika bisa memilih tinggal di kota besar, kenapa harus ke ladang sawah.

Belum lagi akses media sosial dan konsumerisme kelas menengah yang nge-mall memang terpusat di kota. Gaya hidup “beli barang dapat gengsi” yang sebenarnya tidak pandang etnis, kerap lekat dengan etnis Cina. Dan jika lingkungan kita sudah memberikan label pada kelompok tertentu, seberapa besar daya kita untuk bisa mencoba untuk melihat melampaui label itu? Seberapa besar usaha kita untuk membersihkan label tertentu supaya bisa melihat isi?

Saya mungkin “terlihat” kaya karena saya berkesempatan tinggal di kota, sekolah sampai sarjana, bahkan menuntut ilmu di luar negeri. Sebagai generasi kedua etnis Cina di Indonesia saya adalah warisan keputusan generasi sebelum saya.

Kakek nenek yang memilih tinggal dan berusaha karung dan kerajinan rotan di Makassar (barang bukti I), lalu papa mama yang pindah ke Surabaya untuk mencari kesempatan lebih baik (barang bukti II). Sekolah saya memang sekolah swasta tapi uang jajan saya seminggu harus memilih antara sekantung batagor atau satu kotak susu coklat. Saya melengkapi pendaftaran beasiswa dan tanpa sepeserpun mengeluarkan uang untuk sekolah di luar negeri.

Jika ada yang melihat kehidupan saya di media sosial lalu menyimpulkan saya Cina yang kaya raya, apakah saya berkesempatan menjelaskan kepadanya bahwa saya biasa saja.

Saya yakin mencapai cita-cita sila kelima Pancasila itu bukan hanya perkara uang dan kemapanan finansial. Kesejahteraan sosial lintas etnis—apalagi pasca Reformasi—itu lebih luas dari sekadar barang apa yang dibeli atau negara mana yang dikunjungi.

Jika mendengar berita tentang amoy Singkawang yang diperjualbelikan sebagai isteri di Kalimantan Barat, jangan lalu menganggap berita itu eksotis lalu di eksploitasi sebagai cerita sedih etnis Cina. Mereka adalah cerita sedih warga Indonesia yang jadi korban human trafficking. Atau ketika mendengar cerita tentang kakek Cina penjual kerupuk yang sekaligus membagikan kartu nama untuk menawarkan jasa kursus Bahasa Mandarin, jangan lalu berpikir ia adalah penyimpangan etnis. Ia adalah wajah warga Indonesia yang tidak mendapat hak jaminan sosial dari negaranya. Dan jika ada ada keluh kesah tentang sulitnya mengurus surat-surat birokrasi tanpa uang sogok atau calo karena etnis tertentu, jangan diasumsikan itu masalah rasisme. Itu adalah keluh kesah Indonesia yang lelah akan korupsi.

Dan terima kasih sudah membaca karena tak mudah untuk menantang diri melawan stereotipe yang sudah ada. Apalagi kalau sudah bicara duit…

 

Virginia Gunawan adalah seorang jurnalis asal Surabaya, Indonesia, yang kini bekerja di Voice of America, Washington DC, Amerika Serikat. Ginnie, panggilan akrabnya, menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Kristen Petra jurusan jurnalistik dan melanjutkan ke jenjang S2 di New York University melalui beasiswa Fulbright dengan jurusan yang sama. Ginnie bisa dihubungi melalui akun Instagram dan Twitter dengan username @vgnwn

Related Article